Membuat visa pelajar Spanyol di Prancis

Membuat visa Spanyol untuk pelajar yang sedang belajar di Prancis tidaklah sulit. Kebetulan saya ditempatkan di kota Girona – Spanyol untuk kegiatan riset thesis, mau tidak mau saya harus membuat visa spanyol karena akan menetap di sana sampai sebelum pulang ke Indonesia. Pengurusan visa spanyol di Prancis khusus pelajar tidak sulit, dari pihak universite de bourgogne sudah menjadwalkan kami untuk RDV (Rendezvous) dengan pihak konsuler konjen Spanyol di Lyon. Adapun dokumen yang wajib dibawa adalah :

  • Paspor asli dan fotokopi paspor terbaru.
  • 1 buah foto berwarna terbaru ukuran paspor, lebih baik foto di photomaton, harga terakhir 5 euro untuk sekali foto.
  • Sertifikat criminal record dan fotokopinya, sertifikat ini bisa didapat dengan mengisi form “DEMANDE D’EXTRAIT DE CASIER JUDICIAIRE”
  • Sertifikat medical yang dikeluarkan oleh dokter di Prancis dengan menyertakan kalimat “Je soussigne …  certifie que…. ne presente aucun maladie infectieuse, ni maladie garve ayant des cosequences de Sante publique de l’Etat espagnol, selon le reglement sanitaire international de 2005
  • Form aplikasi permohonan visa Spanyol.
  • Sertifikat dari bank di Prancis yang menyatakan bahwa terdapat setidaknya 600 euro setiap bulan untuk biaya hidup di Spanyol.
  • Uang cash 60 euro untuk biaya pembuatan visa.
  • Certificat de scolarité asli dan fotokopinya.
  • Carte etudiant asli dan fotokopinya.
  • Dokumen tempat tinggal (apartement) di Spanyol.
  • Letter of Agreement / Confirmation of Place of study dari Universitas di Spanyol.
  • Course description dari Universitas di Spanyol.
  • Sertifikat asuransi di Prancis yang asli dan fotokopinya.
  • *Semua dokumen harus dalam bahasa Prancis atau Spanyol.

 

Konsulat Jenderal Spanyol di Prancis berada di 1, rue Louis Guérin , 69100 Villeurbanne – Lyon, France. Proses pembuatan visa memakan waktu kurang lebih 3-4 minggu.

Lebih penting mana ? Teori atau praktik ?

Sudah menjadi perdebatan yang umum, yaitu antara teori dan praktik. Ada segelintir orang yang tidak memperdulikan teori, mereka cenderung mendewakan praktik, menganggap praktik adalah segalanya. Adapula sebagian orang yang justru mengembor-gemborkan teori tapi tidak kunjung melakukan praktik. Pada tulisan kali saya mencoba memberikan opini terhadap kedudukan teori dan praktik dalam sudut pandang akademis.

 “Teori tanpa praktek sia-sia, praktek tanpa teori menyesatkan”

Ada pendapat “Teori tanpa praktek sia-sia, praktek tanpa teori menyesatkan”, ya saya setuju dengan itu. Pandangan saya adalah teori dan praktik adalah hal yang kedudukannya sama dan penting. Sebagai contoh, jika Anda ingin mencari jarak terpendek dari sebuah lintasan, maka Anda bisa menggunakan teori graph. Memang belajar teori itu terkadang membosankan, hal inilah yang membuat sebagian orang “buru-buru” terjun ke praktik tanpa mempunyai bekal yang cukup untuk praktik.

Menurut saya teori adalah sebuah kesempatan untuk belajar sebelum praktiknya dilaksanakan. Misalnya saja Anda ingin mengendarai kendaraan bermotor, jika Anda belajar teorinya terlebih dahulu, maka Anda akan lebih mudah belajar mengendarai kendaraan bermotor. Pengalaman saya pribadi ketika latihan stir mobil adalah saya belajar dari teori terlebih dahulu, saya belajar etika berlalulintas serta rambu dan marka jalan, teori-teori yang saya baca dan pelajari saya praktikan ketika mengendarai mobil. Dengan kata lain praktik adalah sebagai ajang pembuktian teori yang saya pelajari.

“Praktik tidak selamanya sama dengan teori”

“Praktik tidak selamanya sama dengan teori”. Hal ini benar, sangat benar. Dalam praktik tidak selamanya sama dengan apa-apa yang kita pelajari di dalam teori. Salah satu contohnya adalah ketika praktikum fisika dasar, dalam membuat laporan selalu terdapat kesalahan relatif, kesalah relatif ini biasanya terjadi akibat kesalahan pembacaan alat ukur atau kejadian alam lainya. Contoh yang paling sederhana adalah ketika mengukur kecepatan mobil, misalkan Anda mengendarai mobil dengan kecepatan 20 km/jam selama 1 jam,  maka seharusnya Anda menempuh jarak 20 kilometer, kenyataannya bisa jadi Anda hanya menempuh 18 kilometer, hal ini bisa jadi karena adanya gaya gesek atau hambatan lain seperti angin dan lain-lain.

Jika ada fenomena-fenomena alam yang sudah terdapat teorinya kemudian dalam praktiknya sangat jauh berbeda, dimungkinkan teori tersebut gugur dan digantikan oleh teori yang baru.

“Berpikirlah sebelum bertindak”

Adakalanya kita sering gegabah melalukan sesuatu tanpa berpedoman/merujuk pada teori tersebut sehingga praktik/apa yang kita kerjakan menjadi sia-sia. Adapula yang selalu berkutat dengan teori  dan teori tetapi pelaksanaannya tidak kunjung sampai. Oleh sebab itu antara teori dan praktik haruslah memiliki kedudukan yang sangat seimbang. Yakinilah bahwa teori dan praktik itu adalah hal yang sangat erat dan penting diantara keduanya.

PERJALANAN & PENGALAMAN DI EROPA #7

Tulisan kali ini perjalanan saya ke kota paling romantis di dunia, alias Paris, kalau anda tinggal di Prancis, tapi belum pernah keliling Paris, katanya durhaka…

Sampai saat ini, saya baru 3 kali ke Paris, tulisan ini adalah perjalanan kedua dan ketiga saya. Beruntung sekali ada promo khusus yaitu tiket kereta PP dari Dijon-Paris hanya 18 euro, ini adalah salah satu trik dari pemerintah Prancis untuk menarik wisatawan lokal ke Paris. Perjalanan pertama saya ke Paris hanya berdua saja bersama Dea, tempat-tempat yang dituju :

  • Notre dame
  • Louvre
  • Arc de triomphe
  • Menara eiffel

berikut foto-foto perjalan pertama di Paris :

DSC00746

DSC00749

DSC00750

DSC00752

DSC00759

DSC00763

DSC00764

DSC00765

DSC00767

DSC00769

DSC00770

DSC00774

DSC00775

DSC00776

DSC00777

DSC00778

DSC00779

DSC00786

DSC00787

DSC00788

DSC00789

DSC00796

DSC00798

DSC00799

DSC00802

DSC00803

DSC00804

DSC00806

DSC00807

DSC00808 DSC00810

DSC00811

DSC00813

DSC00672

DSC00673

DSC00674

DSC00675

DSC00676

DSC00677

DSC00681

DSC00682

DSC00683

DSC00685

DSC00686

DSC00687

DSC00688

DSC00691

DSC00695

DSC00701

DSC00706

DSC00709

DSC00712

DSC00713

DSC00721

DSC00724

DSC00725

 

dan perjalan kedua saya, tepat 1 minggu setelahnya, bersama sama dengan mahasiswa doktorat berkunjung ke chateau de versailles😀

DSC00931

DSC00932

DSC00934

DSC00936

DSC00938

DSC00942

DSC00944

DSC00945

DSC00946

DSC00947 DSC00956 DSC00957

DSC00960

DSC00961 DSC00962

DSC00827

DSC00828

DSC00829

DSC00831

DSC00833 DSC00836

DSC00839

DSC00841

DSC00843

DSC00844

DSC00845

DSC00846

DSC00857

DSC00858

DSC00859

DSC00860

DSC00869

DSC00873

DSC00875

DSC00876

DSC00878

DSC00881

DSC00885

DSC00886

DSC00887

DSC00893

DSC00894

DSC00899

DSC00900

DSC00902

DSC00903

DSC00904

DSC00905

DSC00914

DSC00915

DSC00918

DSC00920

DSC00921

DSC00924

DSC00925

DSC00926

DSC00928

 

 

Dengan kaitkata ,

PERJALANAN & PENGALAMAN DI EROPA #6

28 Oktober 2013, adalah hari bersejarah, kenapa ? karena ini adalah pertama kali saya melihat sidang terbuka mahasiswa doktorat, dan hari bersejarah bagi pak Musa Purnawarman, karena beliau yang disidangkan🙂

Siapa itu pak Musa ? secara ringkas pak Musa adalah mahasiswa doktorat (sekarang sudah lulus) Universite de Bourgogne, salah satu dosen di Universitas Gunadarma, baliaulah yang banyak membantu kedatangan saya di Prancis, thanks untuk beliau atas bantuannya selama ini selamat menyandang gelar doktor.

Sidang alias soutenance (dalam bahasa Prancis) dilaksanakan di gedung AAFE, Dijon. Ketika itu saya datang belum ada siapa-siapa kecuali pak Musa yang sedang latihan presentasi dan pak Yudi. Sidang kali ini menghadirkan 2 penguji luar biasa asal Indonesia, Prof. Sarifudin Madenda dan Dr. Eri Prasetyo, 2 orang yang tidak asing lagi bagi mahasiswa UG di Prancis. Sayang sekali saya kurang paham apa yang disampaikan Pak Musa tentang disertasinya karena dibawakan dalam bahasa Prancis, dari semua slide beliau hanya slide terakhir yang saya paham, “Terima kasih” hahahaha…

Selesai mempresentasikan disertasinya, pak Musa kemudian menunggu jawaban dari dewan penguji, dan dinyatakan berhak menyandang gelar doktor. Kemudian pak Musa memberikan cinderamata kepada professor pembimbing dan para penguji.

DSC00544

DSC00562

DSC00567

DSC00571

DSC00575

DSC00543

 

 

Setelah itu, hal dinanti-nanti adalah party…. yeay party… banyak orang Indonesia loh, teman-teman DD UG IV, kak Ias, Pak Sabri, Pak Yudi, mahasiswa Magdok, dan indo-franco, dan yang paling berseri, ines😮 .  Makanannya beraneka ragam, mulai dari cake, gorengan, cocktail hingga permen kopiko😀

DSC00584

DSC00585

DSC00586

DSC00587

DSC00589

DSC00591

DSC00592

DSC00594

DSC00597

DSC00598

DSC00582

 

Semoga saya bisa menyandang gelar doktor pada suatu hari nanti…

Dengan kaitkata , , , ,

PERJALANAN & PENGALAMAN DI EROPA #5

Biaya hidup tergantung gaya hidup

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang living cost alias biaya hidup yang saya alami ketika saya bertahan hidup di negara prancis. Satu-satunya sumber keuangan yang saya terima adalah kiriman uang dari kampus UG, sebesar 750 euro per bulan, cukup ngga tuh 750 euro per bulan ? kan mahal tuh tinggal eropa ? Oke, saya bahas ya..

Disini saya tidak menggunakan ilmu akuntasi yang baik benar, karena saya tidak mencatat semua proses keluar masuk kas, disini saya akan menggunakan pendekatan yang sederhana saja ya🙂 Komponen-komponen biaya hidup saya jabarkan menjadi berikut :

  • Tempat tinggal / hebergement : Sebagai pelajar Prancis, saya dapat menggunakan fasilitas CROUS residence. Kelengkapan dan kenyamanan tempat tinggal akan berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan. Sebagai contoh, sebuah kamar di Residence Acacias Le Creusot yang dilengkapi kulkas,  meja belajar, lemari, dan kamar mandi yang berada di dalam kamar, dan dapur yang digunakan berbagi dengan penghuni lain, ditebus dengan biaya 232 euro per bulan, itupun sudah termasuk biaya listrik,air dan internet.  Sedangkan di Residence Jean Moulin, harus ditebus dengan biaya 350 euro per bulan, satu-satunya perbedaan adalah dapur di Jean Moulin berada di dalam kamar.
  • Makan dan minum : Seharusnya komponen ini diletakkan diatas, tapi tidak masalah. Makan di resto U, resto U adalah istilah untuk kantin universitas, jika anda pelajar, anda harus mengeluarkan 3.1 euro untuk sekali makan, dalam sekali makan itu anda mendapatkan makanan pembuka, utama dan pencuci mulut. Tetapi sampai sekarang saya belum pernah makan di resto U berbayar, pernah saya makan 2 kali di resto U tetapi menggunakan voucher gratis dari kampus. Tentu lebih murah jika anda memasak sendiri makanan yang anda makan, berapa sih harga makanan di prancis ? tentu harga makanan di setiap kota berbeda-beda, sebagai pembanding anda bisa melihat di http://www.carrefour.fr . Biasanya, setiap minggu saya belanja habis sekitar 25-35 euro per minggu, ya dalam sebulan saya mengeluarkan 100-140 euro untuk berbelanja di carrefour.
  • ATK : Disini saya hanya pernah membeli satu buah buku tulis😀 Jika ingin mencetak dokumen, saya cukup ke kampus, ya di kampus kebutuhan cetak mencetak ada dan gratis. Anggap setiap bulan anda membeli 1 pulpen baru, sekitar 5 euro.
  • Komunikasi : Jika internet ada di residence dan kampus, lalu komunikasi apa lagi ? Tidak ada salahnya kita mempunyai handphone dan providernya, ya walaupun disini kebanyakan berkomunikasi menggunakan email. FYI, pulsa/credit untuk operator orange bervariasi, isi pulsa 5 euro hanya aktif untuk 7 hari saja, tetapi 15 euro bisa aktif untuk 2 bulan. Komponen “pulsa” ini sebenarnya optional, tergantung kebutuhan.
  • Kebersihan : Saya mempunyai kebiasaan mandi 2 kali sehari dan setiap hari membuang sampah. Harga kantung sampah plastik hitam isi 40 pcs relatif murah, hanya 1 euro saja. Sabun mandi + shampo sekitar 3 euro, pasta gigi sekitar 1 euro. Jika di total semuanya sekitar 5 euro.
  • Transportasi : Setiap bulan, saya mengeluarkan 11.30 euro untuk berlangganan bus.

Hmm apalagi ya, saya kira itu komponen utama biaya hidup disini, ingat ya, yang UTAMA, totalnya sekitar 532 euro per bulan. Note, harga ini adalah harga yang saya alami di tahun 2013 di kota Le Creusot, Prancis. Seperti quote diatas tadi, biaya hidup tergantung gaya hidup, ngga bisa dipungkiri kalau kita butuh hiburan, kadang kalau melihat McD atau restoran kebab, kita jadi lapar dan membeli makanan disana.

Selain pemasukan dari kampus UG, saya juga mendapatkan subsidi dari pemerintah Prancis berupa CAF sebesar 90 euro per bulan, uang ini langsung dikirim ke CROUS, dan dikurangkan ke tagihan bulanan apartemen saya. Satu-satunya bertahan hidup dengan uang beasiswa adalah berhemat dan berhemat🙂 Ingat pepatah kuno, hemat pangkal kaya. Pertanyaan apakah 750 cukup untuk kehidupan sehari-hari di Le Creusot, Prancis ? saya jawab “Cukup”.

 

Dengan kaitkata ,

Perjalanan & Pengalaman di Eropa #4

Kebakaran…. Apa ? Iya kebakaran ! Kejadian ini terjadi pada siang hari ketika saya berada di kamarnya dea, tiba-tiba terdengar suara alarm berbunyi nyaring sekali, kemudian anak-anak VIBOT keluar dari kamarnya, ada apa ya ? Apakah ini latihan atau benar-benar terjadi sesuatu ? Dengan sigap dea mencoba mencari sumber kebakaran, ternyata ada di lantai paling atas ! oh asapnya tebal sekali  !

Kemudian saya bergegass untuk menyelamatkan diri, dan keluar apartemen, ternyata diluar sudah datang polisi dan pompier (pemadam kebakaran), tidak sampai 10 menit petugas sudah datang di lokasi, wah cepat sekali !

Tips #1 : Jangan panik ketika ada kebakaran.

Ada desas-desus katanya gas air panas meledak, apa benar ya ? entahlah, kemudian polisi prancis menghampiri kerumunan yang di dominasi oleh mahasiswa mscv dan vibot, sayangnya kami semua tidak bisa berbahasa prancis, dan alhamdulillah ada mahasiswa prancis ! entah mereka berbicara apa.

Tips #2 :Simpan nomor darurat pada handphone anda.

DSC00329

DSC00330

DSC00331

DSC00332

DSC00333

DSC00334

 

Note : Satu minggu setelah kejadian ini, ternyata yang terbakar adalah kamarnya DP, DP adalah ex mscv dan sekarang sedang S3 di Le Creusot, karena kamarnya terbakar, CROUS memindahkan dia ke apartemen Acacias.

Dengan kaitkata ,

Perjalanan & Pengalaman di Eropa #4

Hmm, cerita apa ya ? Bagaimana kalau cerita mengenai la fete. La fete adalah bahasa prancisnya pesta. Ya disini, mahasiswa internasional (mscv student) biasanya membuat pesta setiap minggunya, entah kenapa setiap minggu, mungkin untuk menghilangkan sejenak kepenatan di dalam pikiran. Pesta pertama diadakan di kediaman sai, sama-sama di acacias, tapi sai berada di apartemen, sedangkan saya di chambre (kamar). Pesta pertama ini merupakan pesta pembukaan, adapun sai berencana membuat ayam tanduri khas India. Kami sekelas pun patungan untuk membeli persiapan pesta, ada yang membeli snack, minuman, ayam dan yang ngga mungkin dilewatkan adalah minumal beralkohol seperti wine dan bir !

Pukul 7 sore kami sudah sampai di kediaman sai, namun ayam belum siap, ya Allah, perut saya sudah lapar hahahaha. Setelah ayam tanduri siap untuk dieksekusi, kami pun dengan beringas memakan ayam itu, tapi ternyata cuma orang Indonesia yang paling lahap makannya, kenapa ? karena ayam tanduri sangat pedas dan cuma orang Indonesia yang bisa tahan makan makanan pedas😀.

Tips #1 : Jika anda maniak pedas, jangan lupa membawa sambal sendiri.

DSC00300

DSC00301

DSC00302

DSC00303

DSC00304

DSC00305

DSC00306

DSC00307

DSC00308

Biasanya sebelum pesta mulai, biasanya kita main games dahulu, kebetulan tempatnya sai persis di depan tempatnya juan, dan juan mempunyai XBOX. Pada saat itu saya mencoba bermain FIFA 2013 melawan musaab (sayang sekali musaab keluar dari program mscv😦 ) dan saya menelan pil pahit.

Tips #2 : Berlatihlah games tertentu sehingga anda tidak malu ketika bermain games.

Setelah ayam tanduri habis, beberapa teman mencoba menghisap semacam sisha, tapi bukan sisha, entah apa namanya. Saya hanya melihat-lihat saja karena saya bukan perokok jadi tidak tahu dan tidak mau merokok🙂. Sayangnya ada yang membuat ketidaknyamanan pesta, yaitu ada anjingnya liga, saya bukan takut kepada anjing, tapi takut terkena liur anjingnya itu loh hiiiiii…..

Dengan kaitkata , , , ,

Perjalanan & Pengalaman di Eropa #3

Masih seputar kedatangan di Le Creusot..

Perjalanan & Pengalaman di Eropa #2 diceritakan mengenai kehidupan baru di kampus, pada Perjalanan & Pengalaman di Eropa #3 ini saya tidak bercerita banyak, karena foto-foto yang akan menceritakannya..

  • Pemandangan dari kamar 171 di residence Acacias Le Creusot :

DSC00296

DSC00295

DSC00288

DSC00287

DSC00286

DSC00285

DSC00284

DSC00283

  • Campus sud-bourgogne, condorcet

DSC00267

DSC00266

DSC00268

  • IUT

DSC00253

DSC00256

DSC00257

DSC00260

DSC00259

DSC00262

DSC00258

  • Pemandangan dari kamarnya dea

DSC00233

DSC00232

DSC00229

DSC00228

DSC00227

DSC00226

DSC00225

  • Halte bus Mon Rezo

DSC00249

DSC00248

  • Jalan-Jalan ke IUT

DSC00264

DSC00263

DSC00262

DSC00261

DSC00251

DSC00250

DSC00244

DSC00245

DSC00246

DSC00247

DSC00243

DSC00239

DSC00238

  • Jalan-jalan ke chateau de la verie

DSC00224

DSC00223

DSC00222

DSC00221

DSC00220 DSC00219

DSC00218

DSC00217

Dengan kaitkata , , ,

Perjalanan & Pengalaman di Eropa #2

Hmm kalau ngga salah Perjalanan & Pengalaman di Eropa #1  terakhir sampai saya berpisah dengan pak Rahmat di Gare de Lyon ya ? Oke sekarang akan bercerita lagi.

Setelah sampai di Gare de Lyon, tujuan selanjutnya adalah kami harus ke kediaman pak Musa yang ada di Dijon. Salah satu hal yang perlu di ingat adalah ketepatan waktu di Prancis, jangan samakan dengan jam karet ala Indonesia. Dari Paris ke Dijon kami naik TGV, perjalanan lumayan lama dan kamipun sampai di Dijon ! ketika keluar di stasiun kami bisa menghirup udara segar !

DSC00172

DSC00173

Sampai di kediaman pak Musa, kami berbenah sedikit, cuci muka dll. Kemudian ngga lama datang 3 wanita, lagi-lagi cantik😀 ternyata mereka adalah mahasiswi Indonesia yang juga kuliah di Universite de Bourgogne, tapi mereka kuliah di kampus Dijon, siapakah mereka ? yang saya inget hanya ara dan jeane, satu lagi saya lupa namanya, maklum pikiran masih kalang kabut.

Kami hanya menginap satu malam, karena besok paginya kami harus ke Le Creusot, dan menggunakan kereta paling pagi karena jam 09.00 pagi sudah mulai registrasi mahasiswa baru di condorcet.

Perjalanan dari Dijon ke Le Creusot hanya 1 jam menggunakan TER, setelah sampai di Le Cresuot, kami disambut oleh ibu Julia, wah senang rasanya. FYI, ibu Julia ini sudah lama tinggal di Le Creusot, dan beliau juga alumni Universitas Gunadarma. Ketika kami mendorong-dorong koper untuk sampai ke condorcet, tiba-tiba mobil berhenti, siapa dia ? Oh, ternyata Prof. Fabrice ! Wah lagi-lagi senang bisa bertemu beliau, FYI Prof. Fabrice ini sering datang ke UG untuk seminar loh. Akhirnya koper kami sementara disimpan di bagasi mobilnya Prof. Fabrice.

Sampai di depan condorcet, saya deg-degan banget ! ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kampus😀 Beruntung staff disini sangat ramah-ramah dan mahir berbahasa Inggris. Saya pun diberikan map yang berisikan detil kegiatan yang akan dilakukan ke depan, hari pertama dan kedua adalah mengurus administrasi, mulai dari bank hingga asuransi apartemen. Ngga lupa saya pun berkenalan dengan teman-teman yang lain, ini merupakan momen yang sangat keren bagi saya, pertama kalinya dalam suatu ruangan bisa berbincang dengan teman baru, ada yang India, Nepal ,China ,Rusia, Venezuela dan lain-lain, pokoknya seru banget !

DSC00184

Tapi ada masalah lagi nih, saya belum memegang kunci apartement, ada informasi bahwa kunci apartemen sudah diambil oleh Francois, Francois adalah mahasiswa S3 di Le Creusot. Alhamdulillah pak Musa dan bu Julia mau membantu mengambil kunci kami yang ada di Francois. Setelah hari pertama urusan selesai, akhirnya kami bisa ke apartemen, ternyata dea dan farhat dapat di Jean Moulin dan saya di Acacias.

Jika tinggal di Prancis, sebelum kita menempati kamar/apartemen yang akan kita tempati, kita harus mengisi formulir etat de lieu. Formulir ini berisikan keadaan kamar kita ketika akan ditempati. Harus jeli melihat kondisi kamar kita.

Tips #1 : Pastikan anda mengisi dengan tepat dan jeli formulir etat de lieu

DSC00174

DSC00177

DSC00181

DSC00183

DSC00204

DSC00205

DSC00206

Selesai masalah apartmen, saya masih mempunyai 2 hari untuk berbenah kamar sebelum memulai perkuliahan. Dengan baik hati bu Julia berkenan mengajak kami berbelanjan sekaligus berkeliling Le Creusot. Kami pun diajak menjemput kedua anaknya yang juga cantik🙂 namanya Ines dan Vicki, sedangkan suami bu Julia namanya Mr. Zoran. Semoga Allah memberi lindungan kepada keluarga ini, aamiin.

DSC00200

DSC00199

Hari kedua masih seputar urusan administrasi, dan saya bertemu dengan Andru, siapa Andru ? Andru adalah anak ITB yang sudah lulus S2 master computer vision & robotic, yang sekarang sedang S3 di Strasbourg. Ternyata malam ini akan diadakan graduation sekaligus dinner untuk menyambut mahasiswa baru ! What a day, ini merupakan momen yang sangat kontras dengan kehidupan mahasiswa di Indonesia, sejak kapan mahasiswa baru (MaBa) dijamu makan malam di restoran oleh pihak kampus ?

DSC00203

DSC00202

DSC00201

Cerita Perjalanan & Pengalaman di Eropa #2 , masih banyak kok cerita-cerita yang lainnya, yang seru-seru pastinya… silahkan baca cerita selanjutnya di Perjalanan & Pengalaman di Eropa #3

Dengan kaitkata , , , , , ,
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.