Lebih penting mana ? Teori atau praktik ?

Sudah menjadi perdebatan yang umum, yaitu antara teori dan praktik. Ada segelintir orang yang tidak memperdulikan teori, mereka cenderung mendewakan praktik, menganggap praktik adalah segalanya. Adapula sebagian orang yang justru mengembor-gemborkan teori tapi tidak kunjung melakukan praktik. Pada tulisan kali saya mencoba memberikan opini terhadap kedudukan teori dan praktik dalam sudut pandang akademis.

 “Teori tanpa praktek sia-sia, praktek tanpa teori menyesatkan”

Ada pendapat “Teori tanpa praktek sia-sia, praktek tanpa teori menyesatkan”, ya saya setuju dengan itu. Pandangan saya adalah teori dan praktik adalah hal yang kedudukannya sama dan penting. Sebagai contoh, jika Anda ingin mencari jarak terpendek dari sebuah lintasan, maka Anda bisa menggunakan teori graph. Memang belajar teori itu terkadang membosankan, hal inilah yang membuat sebagian orang “buru-buru” terjun ke praktik tanpa mempunyai bekal yang cukup untuk praktik.

Menurut saya teori adalah sebuah kesempatan untuk belajar sebelum praktiknya dilaksanakan. Misalnya saja Anda ingin mengendarai kendaraan bermotor, jika Anda belajar teorinya terlebih dahulu, maka Anda akan lebih mudah belajar mengendarai kendaraan bermotor. Pengalaman saya pribadi ketika latihan stir mobil adalah saya belajar dari teori terlebih dahulu, saya belajar etika berlalulintas serta rambu dan marka jalan, teori-teori yang saya baca dan pelajari saya praktikan ketika mengendarai mobil. Dengan kata lain praktik adalah sebagai ajang pembuktian teori yang saya pelajari.

“Praktik tidak selamanya sama dengan teori”

“Praktik tidak selamanya sama dengan teori”. Hal ini benar, sangat benar. Dalam praktik tidak selamanya sama dengan apa-apa yang kita pelajari di dalam teori. Salah satu contohnya adalah ketika praktikum fisika dasar, dalam membuat laporan selalu terdapat kesalahan relatif, kesalah relatif ini biasanya terjadi akibat kesalahan pembacaan alat ukur atau kejadian alam lainya. Contoh yang paling sederhana adalah ketika mengukur kecepatan mobil, misalkan Anda mengendarai mobil dengan kecepatan 20 km/jam selama 1 jam,  maka seharusnya Anda menempuh jarak 20 kilometer, kenyataannya bisa jadi Anda hanya menempuh 18 kilometer, hal ini bisa jadi karena adanya gaya gesek atau hambatan lain seperti angin dan lain-lain.

Jika ada fenomena-fenomena alam yang sudah terdapat teorinya kemudian dalam praktiknya sangat jauh berbeda, dimungkinkan teori tersebut gugur dan digantikan oleh teori yang baru.

“Berpikirlah sebelum bertindak”

Adakalanya kita sering gegabah melalukan sesuatu tanpa berpedoman/merujuk pada teori tersebut sehingga praktik/apa yang kita kerjakan menjadi sia-sia. Adapula yang selalu berkutat dengan teori  dan teori tetapi pelaksanaannya tidak kunjung sampai. Oleh sebab itu antara teori dan praktik haruslah memiliki kedudukan yang sangat seimbang. Yakinilah bahwa teori dan praktik itu adalah hal yang sangat erat dan penting diantara keduanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: